Dunia politik kembali dibuat gaduh setelah Anies Baswedan menulis sebuah cuitan bernada satir tentang “mata kedutan” tak lama setelah Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, kembali menyinggung soal “skor 11” dalam sebuah acara publik. Walau tidak menyebut nama siapa pun, publik langsung menghubungkan cuitan Anies itu dengan pernyataan Prabowo yang tengah hangat dibicarakan di panggung nasional.
Cuitan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah video Prabowo membahas “skor 11” kembali viral di media sosial. Istilah yang sebelumnya sudah dikenal sebagai bagian dari candaan politik itu kembali mencuat, memancing tawa sekaligus kontroversi. Namun perhatian publik langsung teralihkan pada cuitan Anies yang dianggap ambigu, menusuk, dan mengandung pesan tersirat yang memancing berbagai interpretasi.
Cuitan yang Memicu Spekulasi
Dalam unggahannya, Anies menuliskan: “Kalau mata kedutan itu tandanya apa ya? Antara mau ketawa atau mau ngomong sesuatu.” Tanpa konteks tambahan, cuitan itu langsung menjadi trending. Warganet ramai-ramai menghubungkannya dengan momen ketika Prabowo kembali mengangkat isu skor tersebut.
Sebagian pendukung Anies menilai cuitan itu sebagai bentuk humor politik. Mereka menganggapnya sebagai respons santai namun tajam terhadap dinamika politik yang belakangan terlihat semakin penuh sindiran. Sementara itu, kelompok lain justru menilai unggahan tersebut sebagai bentuk kelelahan menghadapi situasi politik yang dianggap penuh drama.
Namun yang paling menarik adalah reaksi warganet yang justru membumbui perdebatan itu dengan berbagai meme dan interpretasi liar. Ada yang mengartikan “kedutan” sebagai tanda gemas, ada yang menebak itu bentuk ‘kode’ ketidaksabaran, dan tak sedikit pula yang menilai itu sebagai cara halus Anies untuk menyinggung komentar Prabowo.
Konteks Skor 11 yang Kembali Diangkat
Istilah “skor 11” sendiri sudah cukup dikenal publik sebagai bahan candaan politik yang kerap digunakan Prabowo dalam berbagai kesempatan. Dalam pernyataannya yang viral, Prabowo ditampilkan mengungkit perbandingan yang mengundang tawa hadirin. Meski disampaikan dalam suasana santai, komentar itu kembali menjadi bahan diskusi di media nasional.
Setelah pernyataan itu ramai dibahas, tak butuh waktu lama hingga publik mulai mencari respons dari tokoh-tokoh lain, termasuk Anies yang selama ini sering berada dalam kubu politik yang berbeda dengan Prabowo. Karena itulah, cuitan “mata kedutan” muncul di waktu yang sangat strategis, membuat banyak pihak merasa itu bukan kebetulan.
Respons Publik: Antara Menghibur dan Mengusik
Perdebatan yang muncul di media sosial terbagi menjadi tiga kubu besar. Kubu pertama menganggap Anies sedang melawak dan memberikan angin segar di tengah suasana politik yang cenderung tegang. Mereka menilai politik juga seharusnya memiliki ruang untuk humor dan satire yang tidak berlebihan.
Kubu kedua menilai bahwa Anies sebenarnya sedang memberikan kritik terselubung. Menurut mereka, kata “kedutan” dapat ditafsirkan sebagai bentuk ketidaksabaran atau kegelisahan terhadap dinamika politik yang dianggap tidak substansial. Kubu ini membaca cuitan itu sebagai seruan agar diskursus politik kembali fokus pada isu penting, bukan hanya retorika panggung.
Sedangkan kubu ketiga menilai Anies hanya sedang memanfaatkan momentum viral untuk tetap berada dalam sorotan. Bagi mereka, cuitan itu tidak memiliki makna politik yang dalam, melainkan sekadar strategi komunikasi untuk menjaga keterhubungan dengan publik.
Pengamat: Strategi Humor Politik Sedang Naik Daun
Beberapa pengamat komunikasi politik menilai fenomena ini sebagai tren baru. Mereka menyebut bahwa humor politik kini menjadi strategi efektif untuk menyampaikan sindiran tanpa harus mengeluarkan pernyataan langsung yang berpotensi memicu konflik terbuka.
Menurut para analis, gaya komunikasi seperti ini semakin populer karena selaras dengan pola konsumsi media sosial masa kini pendek, satir, mudah dibagikan, dan membangkitkan emosi publik. Cuitan Anies dinilai masuk dalam kategori tersebut, memadukan kelakar dan kritik secara halus.
Tidak sedikit pengamat yang juga menilai bahwa respons semacam ini lebih efektif dibandingkan pernyataan politik formal yang cenderung kaku. Dengan memilih humor, seorang tokoh politik dapat menjaga citra santai sekaligus tetap menyampaikan pesan simbolik.
Akan Berlanjut atau Mereda?
Hingga kini, baik Anies maupun Prabowo tidak mengeluarkan penjelasan lanjutan. Namun percakapan publik terus berjalan. Banyak yang menunggu apakah akan ada balasan, atau apakah ini hanya episode kecil dalam dinamika politik yang terus bergerak.
Yang jelas, cuitan “mata kedutan” Anies telah menciptakan percikan baru di tengah suhu politik nasional yang sedang menghangat. Apakah ini sekadar lelucon atau tanda babak baru adu sindiran di ruang publik hanya waktu yang akan menjawabnya.